APA YANG TELAH SAYA LAKUKAN
(SEBUAH RENUNGAN DI PERGURUAN ISLAM AR
RISALAH)

Belum
lagi ketaannya dalam amal yaumiyahnya sungguh sulit ditandingi, kata
teman-teman ia bisa mengkhatamkan al quran hanya 3 hari, itu masih kategori
santai, kalau di genjot kata teman-teman ia bisa khatam dalam 2 hari. Saya
iseng bertanya pada teman-teman musyrif “ gimana dia mengkhatamkannya ?” “ ia
pasang alarm semwaktu tilawah, kalau ia mengantuk barang 5 m, maka alaram di
hpnya akan berbunyi, maka ia lanjut tilawahnya” widihhhh!!!! Luar biasa
pantasan za wajahnya teduh dan menenangkan. Sesuatu yang tanpa bukti memang
sulit untuk dipercaya. Begitu juga dengan apa yang teman-teman katakan.
Ternyata apa yang mereka ceritakan memang betul adanya. Pada bulan juni 2016
kemarin, anak-anak kelas IX SMP melakukan rihlah 2 hari 1 malam kedaerah agam
sekitarnya dan bermalam di maninjau dekat dengan kampungnya Buya Hamka.
Kebetulan saya ditunjuk sebagai pendamping anak kelas Thaif.
Pada
malam harinya kami menginap di dekat danau maninjau disalah satu kampung
ustadz, maka kami pun istirahat di masjid. Saya yang dikenal anak-anak sebagai
yang sedikit humoris dan misterius menjadi tempat anak-anak berbagi cerita,
maka sepanjang malam kami bercerita lepas tentang apa saja, mulai dari asyiknya
belajar di PIAR, suka dan dukanya, hingga
sampai pada cerita pengalaman misteri. Saya dan anak-anak saling bertukar
cerita tak terasa kami bertukar cerita hingga jam 00.00 WIB. Satu persatu
anak-anak KO, dan terkapar tidur pulas. Sampai yang tersisa hanya 2 orang anak
dan saya lihat ustadz ihsan sudah tertidur pulas sejak jam 21.00 WIB. Hingga
jam 00.30 wib ketika semua anak-anak tidur dan saya mulai memjamkan mata apa
yang terjadi, ditengah malam dan di dinginnya pinggiran danau maninjau ustadz
ihsan bangkit dari tidurnya menuju kamar wudhu, sembari berbaring saya
memperhatikan. Ternyata apa yang dikatakan teman-teman ustdz kemarin betul.
Ustadz ini sulit ditandingi dalam hal ibadah. Sesudah berwudhu, ia pergi ke
teras masjid mengambil sajadah dan mulailah ia menghadapkan dirinya pada Allah
SWT. Ayat yang dibacanya bukannya surat-surat pendek tapi dirakaat pertama ia
membaca surah ali imran dan karena kantuk dan lelah aku terlelap sembari
mendengar sayup-sayup lantunan ayat yang dibacakan ustadz ihsan. Dingin yang
menyelimuti pinggiran danau maninjau membuat aku terbangun jam 03.30 wib,
ketika aku ngucek-ngucek mata, ternyata saya masih mendengar suara ustadz
ihsan. “hah, ternyata ia belum selesai solat malamnya, hmmm luar biasa,
Subhanallah”. Saya jadi berkecil hati apa yang telah saya lakukan. Ketaatan
seperti apa yang sudah saya lakukan.
Kembali
awal cerita, ketika saya menghampiri ustadz ihsan, dan memulai berbincang,
bincang dengannya. “ustadz, kenapa tak mau beli hp android, dari pertama kenal
kayaknya ustadz hanya pake manual ini, bisanya hanya sms dan nelpon, ustadz gak
mau update info tentang perkembangan dunia?” “
“owh, mau gimana lagi ustadz jai,
ini baru yang bisa dibeli, hehehe”,
“ ah masa sih stadz, kemana
perginya yang tiap bulan keluar hak hak hak”.
“ emang apa faedahnya sih pakai
hp android ustadz jai?”,
“wah banyak stadz, ustadz tau bu
sulhah, kemarin beliau meninggal duni?”
“ hah, Innalillahi wa inna ilaihi
rajiuuun”, wah ana gak tau itu”
“ustadz ada tau mantan wakil
rektor IAIN, periode kemarin ditahan ?”
“hah, Innalillahi wa inna ilaihi
rajiuuun, kok bisa? Stadz jai dapat kabar dari siapa?”
“liat infonya di fb stadz, jadi
untuk ukuran seperti ustadz kayaknya cocok untuk menggunakan hp android agar
tidak ketinggalan info, bukan begitu stadz..???”
“uhwmmm, betul juga ya”
Saya
menyampaikan itu agar, ustadz ini tidak kudet, agar bisa menambah wawasan dunia
luar.
“wah, wah, kayaknya memang perlu
ya punya hp android tu?”
“ jelas lah, ustadz, selain itu
kita bisa memasukkan program al qur’an, hadis dan buku-buku islam lainnya serta
melihat perkembangan dunia luar” ajak saya dengan sedikit promosi
“ ok lah bulan depan saya akan
beli hp android, tapi ustadz kawanin saya ya saya tidak faham masalah hp ini”
“nah gitu donk ustdaz, biar bisa
terhubung dengan dunia luar, tidak hanya sebatas di asrama, masjid dan math’am,
hehehe. Eh ustadz, kenapa gak besok saja, bukannya di rekening banyak pitisnya
tuh?”
“ha ha ha, gak ada stadz jai, ana
gak ada rekening dan gak ada pitis, di tangan saya sekarang hanya ada Rp
20.000,00”
“lha, kok bisa kek gitu, terus
kemana bulanan ustadz?”
“heheh (sambil senyum dia
memperbaiki posisi duduknya, dan menatap saya dengan tatapan syahdu) stadz jai,
gaji yang saya terima satu bulan itu, saya hanya mengambil Rp 100.000.00, yang
lainnya saya kirimkan”
“heh!? Ustadz kirim ke orang
tua?”
“bukan ustadz”
“terus kirim ke istri? Eh wait,
ustadz dah punya istri???”
“hehehe tak ustadz, saya belum
punya istri, saya kirimkan hampir semua gaji saya tiap bulannya pada anak saya”
“lho lho, ini macam mana
ceritanya punya anak tak punya istri???”
“iya, saya membelanjai 2 anak, di
musolla saya dulu, dan alhamdulillah sekarang satu anak saya lulus di piar”
SUBHANALLAH ustadz ihsan luar
biasa, dalam hati saya mengis kedalam ternyata keiklasan saya masih jauh, jauh
jauh dari sebenar keiklasan.